Video WNA Protes Tadarusan Bikin Geger, Ini Pesan Tegas MUI

Spread the love
Rate this post

MUI Minta Warga Tahan Diri dan Tak Emosi soal WNA Protes Suara Tadarusan di NTB

JakartaMajelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat untuk menahan diri dan tidak terpancing emosi menyusul insiden protes yang dilakukan seorang warga negara asing (WNA) terhadap suara tadarusan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Imbauan tersebut disampaikan guna menjaga situasi tetap kondusif, terutama di bulan Ramadan yang penuh nilai toleransi dan kesabaran.

Sekretaris Jenderal MUI, Amirsyah Tambunan, menegaskan bahwa umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa hendaknya mengedepankan sikap bijak dalam menyikapi perbedaan. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tersulut emosi meskipun terdapat pihak yang merasa terganggu dengan aktivitas ibadah.

“Semua pihak harus menahan diri. Jangan sampai persoalan ini menimbulkan konflik yang lebih luas,” ujarnya dalam keterangan kepada media, Sabtu (21/2).


Kronologi Kejadian

Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB. Seorang WNA dilaporkan memprotes suara tadarusan yang diperdengarkan melalui pengeras suara musala setempat pada malam hari. Video insiden itu kemudian beredar di media sosial dan memicu beragam reaksi dari warganet.

Sejumlah warga disebut sempat tersulut emosi, namun aparat setempat segera melakukan mediasi untuk meredam ketegangan. Situasi dilaporkan kembali kondusif setelah dilakukan pendekatan persuasif kepada pihak-pihak terkait.


Seruan Toleransi dan Saling Menghormati

MUI menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum memperkuat persaudaraan dan meningkatkan ketakwaan. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap menjaga kerukunan serta tidak terprovokasi oleh potongan video atau informasi yang beredar tanpa konteks utuh.

Di sisi lain, MUI juga mengingatkan pentingnya sikap saling menghormati, termasuk bagi warga negara asing yang tinggal atau berkunjung ke Indonesia. Memahami tradisi dan budaya lokal, terutama terkait aktivitas keagamaan, dinilai menjadi bagian dari etika hidup bermasyarakat.


Pentingnya Dialog dan Penyelesaian Damai

Pengamat sosial menilai, kejadian seperti ini sebaiknya diselesaikan melalui dialog terbuka dan komunikasi yang baik antara masyarakat dan pihak terkait. Pendekatan persuasif dinilai lebih efektif dibanding respons emosional yang berpotensi memperkeruh suasana.

MUI berharap insiden ini menjadi pelajaran bersama tentang pentingnya toleransi, saling menghargai, serta menjaga ketenangan, khususnya selama bulan suci Ramadan. Dengan sikap dewasa dan bijak, masyarakat diharapkan mampu menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *